Kota Tasik Indonews2 – Sebagai bentuk upaya menggali potensi peningkatan Pendapatan Asli Daerah lewat sektor budaya dan sejarah terus dilakukan Wakil Wali Kota Tasikmalaya Rd Diky Candranegara, salah satunya dengan mengadakan kunjungan ke Yogyakarta untuk melakukan brainstorming.
Lewat media What’s App di hari Sabtu (13/06/26), Wakil Wali Kota Tasikmalaya Rd Diky Candranegara mengatakan dirinya melaksanakan kunjungan ke Yogyakarta setelah melaksanakan dua pertemuan di Jakarta yaitu pertemuan dengan Kepala Badan Penyelenggaraan Jaminan Produk Halal RI Bapak Haikal Hasan membahas upaya memfasilitasi sertifikat halal bagi ribuan pelaku UMKM Kota Tasikmalaya dan pertemuan kedua dengan Komisi III DPR RU Ibu Hj Lola Nelria Oktavia, SE.
Untuk kunjungan kerja ke Yogyakarta ini sudah direncanakan dimana pada Selasa tanggal 9 Juni lalu saya kedatangan dari Dinas Arsip untuk dapat melakukan brainstorming dengan pengelola diorama di Yogyakarta yang membahas tentang sistem pembiayaan, sisi kreatif hingga tahapan pembuatan diorama
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY beserta tim yang memaparkan proses terbentuknya diorama, mulai dari perencanaan konsep, pelibatan seniman, hingga strategi pengelolaan agar menjadi destinasi edukasi dan wisata yang menarik. Rombongan juga diajak menyaksikan langsung karya-karya diorama hasil kreasi para seniman Yogyakarta.
Di tengah kondisi fiskal Kota Tasikmalaya yang masih berat, pemerintah perlu menetapkan prioritas pembangunan yang berorientasi pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Di tengah kondisi fiskal yang kurang baik, kita harus mencari terobosan dengan pembiayaan dari luar daerah namun mampu menghasilkan PAD serta menciptakan perputaran ekonomi positif.
Ia mencontohkan sejumlah gagasan yang tengah didorong, seperti pengembangan hutan kota dan hutan bambu yang direncanakan mulai dibangun pada 2026 dengan dukungan pembiayaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, pemanfaatan aset milik pemerintah provinsi maupun kabupaten, hingga rencana pengembangan kawasan bekas Kantor Pertambangan di Kota Tasikmalaya.
Selain itu, kami pun berharap kawasan Cilembang dapat segera dimanfaatkan sebagai lokasi pertunjukan seni luar ruang (outdoor) yang tidak hanya berpotensi meningkatkan PAD, tetapi juga menggerakkan sektor ekonomi masyarakat sekitar.
Pendopo Tasikmalaya juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata budaya dan sejarah Kesukapuraan, baik dalam bentuk museum mini maupun diorama yang menampilkan perjalanan sejarah daerah.
Diorama bukan hanya menjadi sarana edukasi dan pelestarian sejarah, tetapi juga bisa menjadi daya tarik wisata yang memberikan manfaat ekonomi secara langsung maupun tidak langsung.
Kami juga menyoroti pentingnya memperkenalkan sejarah lokal kepada generasi muda. Ia menyebut masih banyak pelajar di Kota Tasikmalaya yang belum mengenal tokoh-tokoh penting daerah maupun sejarah perjuangan lokal.
“Masih banyak anak-anak yang belum mengetahui sosok Bestong, bahkan belum mengenal tokoh perempuan asal Tasik yang lahir sebelum R.A. Kartini dan berhasil memperjuangkan pendidikan serta melahirkan karya tulis yang sukses pada zamannya. Sejarah seperti ini perlu terus dikenalkan agar tidak hilang ditelan waktu,” pungkasnya.(H.Amir)


