Kota Tasik Indonews24 – Wakil Wali Kota Tasikmalaya Rd Diky Candranegara menghadiri taayakur dan kegiatan siraman adat Sunda Anggota DPRD Kota Tasikmalaya Angga Yogaswara yang menurut rencana akan dilangsungkan pada tanggal 4 Mei 2025.
Kegiatan siraman adat sunda ini dilaksanakan di Kp Cijambe Kelurahan Urug Kecamatan Kawalu, Selasa (02/06/26).
Kegiatan tersebut tampak di hadiri oleh Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, H Wahid, S.Pd, Kabag Prokopim Setda Kota Tasikmalaya Erwin Komarudin, ST, serta tamu undangan lainnya.
Wakil Wali Kota Tasikmalaya Rd Diky Candranegara menyampaikan siraman adat Sunda adalah prosesi sakral memandikan calon pengantin sehari sebelum akad nikah untuk membersihkan diri secara lahir dan batin.
Acara ini sarat dengan doa restu dari keluarga dan dihiasi dengan air dari tujuh sumber mata air yang dicampur bunga setaman
Untuk urutan lengkap prosesi Siraman Adat Sunda:. Ngaras dan SungkemanProsesi awal meminta izin dan memohon maaf kepada orang tua. Calon pengantin melakukan sungkeman, mencuci kaki kedua orang tua, dan melepas kain gendongan sebagai simbol pelepasan tanggung jawab orang tua karena anak akan segera membina rumah tangga sendiri.
Acara siraman yang di gelar pada sore ini lebih kepada perpisahan seorang anak dalam artian seorang anak ini akan twrnotivaai untuk mandiri maka dia pamit mohon doa restu kepada kedua orang tuanya dan juga kepada dua orang adik-adiknya kalau dia akan menikah untuk membina keluarga baru dengan pasangannya.
Di kegiatan ini pun ada bekal doa dari keluarga, kerabat, saudara kepada anak yang akan melangsungkan pernikahan.
Di sisi lain ini juga bagian dalam pelestarian budaya , dimana ini suatu prosesi adat dimana seorang anak berbakti kepada orang tuanya, tadi juga saat di acara, siraman ini kita mendapat keharuan yang sangat luar biasa, karena di acara ini ada suatu prosesi anak membasuh kedua kaki orang tuanya. Ada kultur atau budaya yang sangat baik, di rangkaian acara siraman ini pun di ingatkan tentang ibadah sholat dan yang lainnya yang bersifat religi dan membuat kita yang terlihatnya dampak tak terasa meneteskan air mata.
Yang membuat saya salut itu sendiri yang menjadi pengatur acara kegiatan ini kuar biasa yang dalam membawakan acara ini menggunakan bahasa Sunda yang cukup baik dan paham akan susunan prosesnya seperti apa dan ini memang harus di lestarikan.
Di acara ini pun ada yang unik dan sudah jarang ada di mana pada kegiatan ini ada sinden laki-laki itu kan sudah karang ditemui.
Mudah-mudahan dengan adanya pelestarian budaya, siraman ini dapat terpancing keinginan anak muda jaman now untuk dapat belajar soal hal ini
Dalam prosesi tersebut, sejumlah perangkat adat dihadirkan. Tujuh lembar samping terhampar, melambangkan tujuh lapis kehidupan yang harus dijalani dengan bijak. Bunga-bunga segar ditebar sebagai lambang kebahagiaan yang diharapkan mekar dalam rumah tangga kelak. Nampan disiapkan sebagai simbol kepasrahan diri kepada Sang Pencipta.
“Tak kalah filosofis, kendi dari tanah liat menjadi pengingat bahwa manusia diciptakan dari tanah dan akan kembali ke tanah. Sementara pelita bersumbu tujuh dinyalakan, melambangkan penerang hidup yang menuntun langkah kedua calon mempelai menuju bahtera rumah tangga, “jelasnya.



