Selasa, Februari 3, 2026
spot_img

Top 5 This Week

Related Posts

Siswa SMAK BPK PENABUR Singgasana Unjuk Inovasi, Kewirausahaan Jadi Ujian Nyata Kelulusan

KOTA BANDUNG IndoNews24 – Upaya menyiapkan generasi muda yang mandiri, kreatif, dan berdaya saing global terus dilakukan SMAK BPK PENABUR Singgasana. Salah satunya melalui penyelenggaraan pameran karya siswa bertajuk Student Innovation in Practice, yang dikemas dalam bentuk Food Bazaar di Dining Hall BPK PENABUR Singgasana Cibaduyut, Kota Bandung, Jumat (30/1/2026).

Kegiatan ini menjadi bukti nyata transformasi pembelajaran di sekolah, dari pendekatan teoritis menuju praktik langsung di lapangan. Seluruh siswa kelas XII diwajibkan terlibat aktif, mulai dari merancang konsep usaha, menciptakan produk, hingga memasarkan hasil inovasi mereka secara langsung kepada masyarakat.

Suasana pameran pun dibuat menyerupai pusat perbelanjaan modern. Beragam stan kuliner berdiri rapi, menyajikan produk makanan dan minuman dengan konsep unik, kemasan menarik, serta strategi pemasaran yang dirancang secara matang. Orang tua siswa, teman sebaya, hingga pengunjung umum hadir sebagai konsumen sekaligus penilai kualitas produk.

Kepala SMAK BPK PENABUR Singgasana, Bram Yohanes Setiadi, S.Si., mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari mata pelajaran kewirausahaan yang telah terintegrasi dalam kurikulum sekolah.

“Hari ini kami melaksanakan pameran karya siswa. Ini adalah bagian dari mata pelajaran kewirausahaan atau entrepreneurship. Siswa kelas 12 wajib membuat bisnis yang nyata dan benar-benar dipasarkan ke publik,” ujar Bram.

Ia menegaskan bahwa kewirausahaan di SMAK BPK PENABUR Singgasana bukan sekadar kegiatan tambahan atau ekstrakurikuler, melainkan bidang studi resmi yang memiliki bobot penilaian akademik. Bahkan, pameran ini sekaligus menjadi ujian akhir semester bagi siswa kelas XII.

Dalam pelaksanaannya, Bram menekankan bahwa seluruh produk yang ditampilkan wajib merupakan hasil inovasi siswa, khususnya di sektor food and beverage. Siswa tidak diperkenankan menjual produk yang sudah umum beredar di pasaran tanpa adanya pengembangan atau pembaruan.

“Produk yang mereka sajikan harus inovatif. Tidak boleh sekadar menjual produk yang sudah ada di lapangan. Kalau pun mengembangkan dari usaha yang sudah ada, harus ada inovasi yang jelas, baik dari rasa, konsep, kemasan, maupun cara pemasarannya,” tegasnya.

Tak hanya dituntut kreatif, para siswa juga diwajibkan menjalankan bisnis secara profesional. Setiap kelompok harus melakukan uji pasar (test market), menentukan harga jual, menyusun strategi promosi, serta membuat laporan dan pembukuan keuangan secara sistematis.

Menurut Bram, tujuan utama dari Student Innovation in Practice adalah memberikan pengalaman riil kepada siswa sebelum mereka lulus dan terjun ke masyarakat.
“Kami ingin siswa tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi pencipta lapangan kerja. Mereka kami dorong untuk menjadi pionir, mampu membangun usaha, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar,” katanya.

Ia menilai, di tengah persaingan global yang semakin ketat, keterampilan kewirausahaan menjadi bekal penting bagi generasi muda agar tidak hanya bergantung pada lapangan kerja yang tersedia, tetapi mampu menciptakan peluang secara mandiri.

Baca juga : Sedikit Kegembiraan Di Tengah Kecemasan Catatan Hendry Ch Bangun

Program Student Innovation in Practice sendiri telah menjadi agenda tahunan SMAK BPK PENABUR Singgasana dan kini memasuki tahun keempat pelaksanaan. Hasilnya pun mulai terlihat. Sejumlah alumni diketahui masih melanjutkan usaha yang mereka rintis sejak duduk di bangku sekolah.

“Memang belum sampai skala besar, tetapi sudah banyak alumni kami yang menjadi pengusaha muda. Mereka kuliah sambil tetap mengembangkan bisnis yang dulu dirintis saat sekolah,” ungkap Bram.

Di akhir kegiatan, Bram menyampaikan pesan motivatif kepada para siswa agar pengalaman berwirausaha ini tidak berhenti sebatas kegiatan sekolah.

“Semoga pengalaman ini menumbuhkan semangat juang, kreativitas, dan kepedulian sosial. Hidup bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk memberi kontribusi dan kebaikan bagi masyarakat luas,” pesannya.

Sementara itu, Jeni, salah seorang orang tua siswa, mengapresiasi kegiatan tersebut karena dinilai mampu melatih kemandirian dan keberanian anak-anak dalam menghadapi tantangan kehidupan nyata.

“Anak-anak jadi tahu bahwa ada banyak hal yang bisa mereka lakukan. Ada yang belajar memasak, ada yang jual asinan, dan semuanya itu membentuk keterampilan dasar mereka,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas sekolah, melainkan sarana pembentukan karakter, identitas diri, serta arah masa depan anak. Dengan dibiasakan sejak dini, siswa memiliki bekal keterampilan hidup yang nyata.

“Kalau nanti bicara soal cita-cita, anak sudah punya dasar. Sudah ada pengalaman, sudah pernah mencoba,” tambahnya.
Jeni juga menilai bahwa program ini mendorong anak-anak untuk keluar dari zona nyaman. Tidak semua siswa terbiasa memasak atau berwirausaha di rumah, namun melalui kegiatan ini mereka dipacu untuk belajar dan berkreasi.

“Mungkin ada yang biasa masak, mungkin ada yang tidak. Tapi dengan kegiatan seperti ini, mereka jadi harus belajar. Dari situ kreativitas muncul,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya peran orang tua dalam menanamkan nilai kemandirian kepada anak sejak dini, sebagai bekal menghadapi kehidupan di masa depan.

“Saya selalu bilang ke anak, nanti kalau tidak ada orang tua kamu bagaimana? Kamu harus mandiri. Keterampilan hidup seperti ini sangat penting,” tuturnya.

Melalui sinergi antara sekolah dan orang tua, kegiatan Student Innovation in Practice diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga tangguh, mandiri, dan siap bersaing di dunia nyata.

 

 

Reporter : Yun.s

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles