Kota Tasik, Indonews24 – Wakil Wali Tasikmalaya Rd Diky Candranegara menghadiri sekaligus meresmikan komunitas Kendangers Tasikmalaya di depan halaman Gedung Creative Center Dadaha, Minggu malam (21/06/26).
Peresmian ini di tandai dengan penukulan kendang oleh Wakil Wali Kota Tasikmalaya bersama para pemain kendang.
Wakil Wali Kota Tasikmalaya Rd Diky Candranegara menyampaikan Pemerintah Kota Tasikmalaya menyambut baik dengan telah di launchingnya Komunitas Kendangers Tasikmalaya dimana dengan telah adanya komunitas ini dapat nenginspirasi anak-anak muda untuk melestarikan seni tradisional.
Di kegiatan ini pun terlihat selain penampilan dari para pemain kendang juga ada berbagai Kesenian khas Sunda lainnya seperti Jaipongan, ketuk tilu, bajidoran, ini mampu memberikan hiburan sekaligus mengenalkan budaya Sunda ke masyarakat yang menyaksikan
Kalau saja ada kegiatan seperti ini di gelar satu bulan sekali sepertinya sangat bagus, seperti terlihat disini kegiatan ini di sanbut antusias penonton, mereka terlihat begitu menikmati segala pertunjukan yang di tampilkan, tapi ini kan cuma harapan dan cita-cita, yah mudah-mudahan saja bisa terwujud.
“Di acara ini pun saya sampaikan harapan mudah-mudahan ke depan bisa ada gelaran Rakasun ( Rineka Kesenian Sunda) karena di Rakasun ini bisa memunculkan penampilan dari para pesilat, anak Teater, bisa bergabung juga para pemain kendang, para penari, bisa jadi satu kesatuan. Ini pun mudah-mudahan bisa terwujud, “jelas Diky
Ketua Panitia, Jajang Kasrana, menyebut pentas malam itu sebagai panggung perdana kendang skala besar di Tasikmalaya.
“Ini langkah awal. Kami ingin memberi rumah bagi para penabuh agar silaturahmi terjaga dan kreativitas tidak mati,” katanya.
Ketua Umum Kendangers Tasikmalaya, Ahmad Nasrudin alias Ahmad Greg, menjelaskan komunitas ini sudah dirintis sejak 2020 dengan nama Kendangers Singaparna. Seiring bertambahnya anggota, jangkauannya meluas hingga berubah nama.
Sekarang ada sekitar 300 anggota di kota dan kabupaten. Potensinya beragam, dari perajin kendang sampai penabuh andal. Semua kami rangkul.
Kendangers berpegang pada filosofi “hidup adalah udunan”, yang menekankan gotong royong. Nilai itu langsung dipraktikkan dalam gelaran perdana ini. Ke depan, Ahmad memaparkan tiga program utama: Kendanger Saba Lembur, Saba Sakola, dan Saba Komunitas. “Kami akan turun ke kampung, sekolah, dan komunitas. Tujuannya berbagi ilmu, pengalaman, sekaligus terus belajar.
Tasikmalaya tidak kekurangan seniman, tetapi masih kekurangan ruang tampil. Karena itu regenerasi menjadi hal wajib. “Kalau tidak diwariskan ke anak muda, kendang hanya jadi tontonan. Pelestarian butuh penerus,” jelasnya
Semangat kebersamaan komunitas tertuang dalam jargon “Dulur Salembur Baraya Sadunya”. Satu kampung maupun satu dunia, tetap saudara.
Among Budaya Disporabudpar Kota Tasikmalaya, Andri. Ia akan berupaya untuk mendorong kegiatan serupa digelar berkala. “Bukan hanya kendang atau jaipong. Seni lain juga harus naik panggung. Gedung kesenian harus hidup dan jadi pusat aktivitas budaya,” ujarnya.(H.Amir)


