Kota Tasik Indonews24 – Wali Kota Tasikmalaya H Viman Alfarizi Ranadhan, ST,. MBA menghadiri pelantikan Pengurus DPC GEKRAFS Kota Tasikmalaya du Gedung Creative Center, Dadaha, Jum’at (04/09/26).
Dalam sambutannya Wali Kota Tasikmalaya H Viman Alfarizi Ranadhan, ST., MBA mengatakan hari ini menjadi catatan penting bagi Kota Tasikmalaya. Kepengurusan yang dilantik merupakan kepengurusan GEKRAFS pertama di kota kita. Karena itu, yang lahir hari ini bukan sekadar struktur organisasi, melainkan sebuah simpul baru yang akan mempertemukan ide, talenta, usaha, komunitas, kampus, dunia industri, dan pemerintah.
GEKRAFS dibentuk pada tahun 2019 oleh Bapak Sandiaga. Salahuddin Uno, Bapak Kawendra Lukistian, bersama para penggerak ekonomi kreatif lainnya. Dalam perjalanannya, GEKRAFS telah berkembang di seluruh provinsi Indonesia dan membangun jejaring hingga luar negeri, antara lain Australia dan Malaysia. Perjalanan tersebut memberi satu pelajaran: karya lokal dapat tumbuh menjadi gerakan nasional, bahkan membuka jalan menuju pasar global, ketika para pelakunya terhubung dalam ekosistem yang kuat.
Saya memandang kehadiran GEKRAFS sangat relevan dengan karakter Kota Tasikmalaya. Kita memiliki payung geulis, kelom geulis, batik, bordir, anyaman, kuliner, musik, film, fotografi, desain, serta berbagai karya digital yang terus tumbuh. Warisan keterampilan dan energi kreatif generasi baru adalah modal besar. Tantangannya adalah bagaimana karya-karya tersebut memperoleh kualitas yang konsisten, identitas yang kuat, perlindungan, pembiayaan, promosi, dan akses pasar yang lebih luas.
Ekosistem kreatif itu seperti payung geulis. Dapat menjadi utuh karena rangkanya kuat, motifnya berkarakter, dan setiap bagiannya saling menopang. Pemerintah menyiapkan kebijakan dan ruang komunitas menghidupkan gagasan; kampus memperkuat pengetahuan; dunia usaha membuka pasar, sedangkan para kreator memberi jiwa melalui karya. Apabila seluruh unsur ini bergerak bersama, karya Tasikmalaya akan lebih kokoh menghadapi perubahan zaman.
Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif di Jakarta. Salah satu hal yang kami bahas adalah bagaimana agenda kota dapat sekaligus menjadi panggung bagi UMKM dan ekonomi kreatif lokal. Rangkaian Hari Jadi Kota Tasikmalaya, pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis. bazar UMKM, hingga penyusunan konsep dan logo hari jadi diarahkan agar ikut memperkenalkan identitas, budaya, serta produk unggulan daerah.
Dari pembahasan itu, saya semakin yakin bahwa ekonomi kreatif harus hadir di dalam jiwa pembangunan kota. Sebuah kegiatan publik harus meninggalkan nilai tambah: ada produk llokal yang dikenal, ada kreator yang mendapat ruang, ada jejaring yang terbentuk, dan ada transaksi yang menggerakkan ekonomi masyarakat. Di sinilah saya berharap GEKRAFS dapat menjadi mitra strategis Pemerintah Kota Tasikmalaya.
Semangat tersebut sejalan dengan Tasik PELAK. Program ini kita arahkan untuk menumbuhkan ekonomi dari bawah, mulai dari keluarga, lingkungan, hingga kelurahan. Potensi usaha makanan, perdagangan, fesyen, kerajinan, jasa, pertanian, perikanan, dan ekonomi kreatif harus terus berkembang agar memberi penghasilan yang lebih baik bagi keluarga. Kehadiran GEKRAFS hari ini merupakan langkah konkret untuk memperkuat semangat tersebut sekaligus mendukung terwujudnya Kota Tasikmalaya sebagai kota industri, jasa, dan perdagangan yang religius, inovatif, maju, dan berkelanjutan.
Saya menitipkan empat arah kerja. Pertama, petakan pelaku, talenta, komunitas, dan produk ekonomi kreatif Kota Tasikmalaya secara nyata. Kita perlu mengetahui siapa yang berkarya, apa potensinya, apa hambatannya, serta dukungan apa yang paling dibutuhkan. Data yang baik akan membuat program pembinaan lebih tepat sasaran.
Kedua, perkuat kualitas dan kapasitas pelaku. Bantu mereka. menata produk, kemasan, manajemen usaha, pemasaran digital, legalitas, serta perlindungan kekayaan intelektual. Ide dapat muncul dalam satu malam, tetapi nilai ekonomi dibangun melalui proses yang disiplin, konsisten, dan berkelanjutan.
Ketiga, bukakan akses pasar dan jejaring. Hubungkan pelaku lokal dengan event kota, pusat perbelanjaan, perhotelan, sektor pendidikan, pemerintah, perbankan, marketplace, serta jaringan GEKRAFS di tingkat Jawa Barat, nasional, dan luar negeri. Saya ingin produk Tasikmalaya semakin sering tampil, semakin mudah ditemukan, dan semakin banyak dibeli.
Keempat, berikan ruang yang luas dan menjadi wadah bagi generasi muda. Kampus dan komunitas harus menjadi laboratorium gagasan. Dorong lahirnya kolaborasi lintas subsektor: perajin bertemu desainer, pelaku kuliner bertemu kreator konten, musisi bertemu pembuat film, dan usaha lokal bertemu talenta digital. Kolaborasi seperti inilah yang melahirkan produk baru sekaligus membuka lapangan kerja baru.
Ukuran keberhasilan kepengurusan ini harus terasa pada pelaku: usahanya lebih tertata, produknya meningkat kualitasnya. pasarnya bertambah luas, dan pendapatannya membaik. Program kerja yang sederhana namun konsisten akan jauh lebih berarti apabila benar-benar menjawab kebutuhan para pejuang ekonomi kreatif.
Sebagai Wali Kota sekaligus Ketua Dewan Pembina GEKRAFS Kota Tasikmalaya, saya siap membersamai langkah baik ini. Saya mengajak perangkat daerah terkait untuk membuka ruang kolaborasi yang sehat dan terukur. Mari kita duduk bersama, menyusun agenda yang realistis, membagi peran dengan jelas, lalu memastikan setiap rencana mempunyai tindak lanjut.
” Saya menitipkan harapan besar kepada seluruh pengurus yang dilantik. Bawalah semangat, keberanian, dan kekuatan kolaborasi untuk ikut membangun Kota Tasikmalaya, khususnya di bidang ekonomi kreatif. Jadikan GEKRAFS rumah bersama yang ramah bagi gagasan, tempat bertemunya peluang, dan jembatan yang membawa karya warga Tasikmalaya menuju panggung yang lebih luas, “paparnya.
Sementara, Ketua DPC Gekrafs Kota Tasikmalaya, Deden Khairul, menegaskan organisasinya siap menjadi mitra strategis Pemerintah Kota dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif.
Kami tidak hanya akan bersinergi, tapi juga siap memberikan masukan kritis terhadap kebijakan yang berkaitan dengan ekonomi kreatif. Tujuannya agar setiap regulasi benar-benar berpihak pada pelaku usaha.
Salah satu fokus utama Dekrafs ke depan adalah mendorong lahirnya Peraturan Daerah Ekonomi Kreatif. Menurut Deden, regulasi khusus itu penting sebagai payung hukum agar pelaku kreatif merasa aman dan terlindungi saat berusaha.
Banyak pelaku kreatif kita yang sudah jalan, tapi masih abu-abu secara hukum. Tahap awal kami akan edukasi soal legalitas usaha, hak cipta, hingga perizinan. Kalau fondasi hukumnya kuat, mereka bisa lebih fokus berkembang.
Deden menilai potensi ekonomi kreatif Tasikmalaya sangat beragam, mulai kuliner, fashion, kriya, musik, hingga konten digital dan gim. Namun tantangan terbesar saat ini adalah mendorong pelaku usaha agar naik kelas dan menembus pasar lebih luas.
Untuk itu, Gekrafs berencana menggelar festival budaya skala kota. Acara ini akan melibatkan pemerintah, dunia usaha, dan komunitas sebagai upaya mempromosikan karya lokal sekaligus mendongkrak Pendapatan Asli Daerah.
Menjelang peringatan Hari Jadi Kota Tasikmalaya pada Oktober 2026, Gekrafs juga akan turun langsung dengan program yang menyentuh masyarakat.
“Kami ingin Gekrafs hadir dengan aksi nyata. Bukan hanya seremoni, tapi ada manfaat yang dirasakan warga,” tegas Deden.
Ketua DPW Gekrafs Jawa Barat, Avip Firmansyah, berharap kepengurusan di Tasikmalaya bisa menjadi motor penggerak pelaku kreatif di Priangan Timur.
“Tugas Gekrafs adalah menjembatani antara pelaku, pemerintah, dan pasar. Tasikmalaya punya energi besar. Jika kolaborasinya kuat, produk kreatif Tasik bisa go nasional bahkan internasional,” pungkasnya.



