Kota Tasik, Indonews24-Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rd Diky Candranegara menghadiri puncak Hari Lahir Nahdlatul Ulama ke -100 di PCNU Kota Tasikmalaya, Jalan dr Soekardjo, Sabtu malam (07/02/26).
Pada kegiatan tersebut tampak dihadiri pula oleh Kapolres Tasikmalaya Kota, AKBO Andi Purwanto, SIK.,MH, Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya H Wahid, S.Pd, Anggota Komisi IV DPRD Kota Tasikmalaya, Habib Qosim Nurwahab, Kepala Badan Kesbangpol Kota Tasikmalaya Ade Hendar serta tamu undangan lainnya.
Dalam sambutanya, Diky Candranegara menyampaikan atas nama Pernerintah Kota Tasikmalaya, kami ucapkan: selamat Hari Lahir Nahdlatul Ulama ke-100 tahun. Seratus tahun itu bukan angka biasa. Dalam perjalanan peradaban Islam di Indonesia, satu abad melambangkan kematangan, kesinambungan, dan napas panjang perjuangan. NU adalah rumah besar yang terus bertahan, membesarkan, lalu membimbing generasi demi generasi Dari masa ke masa, NU hadir dengan cara yang khas beragama dengan adab, berjuang menguatkan negeri tanpa kehilangan akarnya
Tema yang diangkat malam ini, “Merawat Jama’ah, Perkuat Ukhuwah,” terasa pas dan relevan. Karena yang paling mahal di tengah masyarakat hari ini bukan memiliki dan rasa saling menjaga, jama’ah itu ikatan Dan ukheawah Itu kebiasaan: saling menghormati, saling menolong, saling mendoakan, dan saling menguatkan, bahkan ketika kita berbeda pendapat.
Kalau kita menengok perjalanan NU di Indonesia, jejaknya panjang. NU tumbuh dari pesantren, dari majelis ilmu, dari tradisi yang kuat, lalu menjadi kekuatan sosial yang menenangkan. Di bawah spirit para ulama pendiri termasuk KH. Hasyim Asy’ari NU menegaskan hal yang sampai hari ini tetap kita butuhkan: menjaga persatuan umat, merawat ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah yang moderat, cinta tanah air, dan menuntut ilmu dengan ikhlas. Ini bukan sekadar nasihat; ini kompas hidup berbangsa.
Dan di Tasikmalaya, NU juga punya akar yang kuat. Sejarah NU di kota ini hidup bersarna denyut pesantren dan tradisi warga. Kita mengenal penanda-penanda sejarah yang terus dirawat, termasuk situs-situs yang menjadi pengingat perjalanan ulama di tanah Tasik. Di titik-titik itulah kita belajar bahwa yang membuat kota ini kokoh bukan gedung-gedung tinggi, tapi nilai yang dijaga.

Saya juga ingin menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada PCNU Kota Tesikmalaya dan seluruh panitia, yang menghadirkan rangkaian kegiatan dengan wajah yang lengkap ada tliewah, shalawat, ada angklung, ada karnaval budaya, sampai wayang golek. Ini pesan yang halus tapi kuat: Tasikmalaya religius, tapi juga berbudaya. Iman berjalan seiring dengan tradisi. Agama tidak menjauhkan kita dari seni, justru seni menjadi cara menyampaikan kebaikan dengan cara yang indah.
NU selama ini terbukti menjadi benteng Islam rahmatan lil ‘alamin yang meneduhkan, yang merangkul, yang menjaga harmoni sosial. Dan ini sangat penting untuk Kota Tasikmalaya. Kita ingin kota ini maju, tapi tetap hangat. Kita ingin pembangunan bergerak, tapi tetap punya adab. Kita ingin ekonomi tumbuh, tapi tidak meninggalkan yang lemah. Itu sejalan dengan visi Kota Tasikmalaya: Tasikmalaya sebagai Kota Industri, Jasa, dan Perdagangan yang Religius, Inovatif, Maju, dan Berkelanjutan. Di visi itu, kata “religius” adalah ruh Kota Tasikmalaya ini, Dan ruh itu akan kuat
Karena itu, saya mengajak kita semus untuk terus berg berpartisipasi sesuai tupoksi dan perannya masing-masing Ulama menguatkan nilai, pesantren melahirkan generasi, benorm menggerakkan kader, pemerintah memastikan pelayanan dan pembangunan berjalan adil. Kita harus saling menguatkan Rasulullah SAW bersabda: “Orang mukmin dengan mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang Jain.” (HR. Muslim).
Kalau satu bagian rapuh, bangunan ikut goyah. Maka yang kita rawat hari ini adalah kekokohan bangunan itu jama’ahnya, ukhuwahnya, dan komitmen untuk saling menjaga.
Apalagi ke depan tantangan makin beragam. Perkembangan teknologi termasuk Al membawa banyak manfaat, tapi juga bisa memunculkan masalah sosial: arus informasi yang liar, fitnah yang cepat menyebar, pola komunikasi yang makin dingin, bahkan polarisasi di ruang publik. Di situ NU dibutuhkan sebagai wadah yang baik untuk selalu mengajarkan tabayyun, menjaga adab, membimbing umat agar cerdas sekaligus berakhlak. Teknologi boleh maju, tapi akhlak jangan mundur. Dunia boleh berubah cepat, tapi persaudaraan jangan runtuh.
“Jangan letih menjaga yang rukun Karena kota ini tidak akan kuat hanya dengan anggaran dan program; kota ini kuat kalau warganya saling percaya, saling menghormati, dan saling mengangkat derajat satu sama lain, “pungkasnya.
Reporter : H Amir


