Rabu, Maret 4, 2026
spot_img

Top 5 This Week

Related Posts

Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan Membuka Musrenbang Sektoral Dinas Ketahanan Pangan Pertanian Perikanan

Kota Tasik, Indonews24 – Musrenbang sektoral ini bukan agenda rutinitas. Ini forum penting untuk memastikan rencana kerja DKP3 Tahun 2027 nyambung dengan RKPD Kota Tasikmalaya 2027, sekaligus menjadi bagian tahun ketiga dari RPJMD 2025-2029. Jadi yang kita bicarakan hari ini bukan sekadar daftar kegiatan tapi arah, prioritas, dan dampak yang benar-benar dirasakan warga.

Hal ini di sampaikan Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, ST., MBA dalam sambutannya pada kegiatan Musrenbang Sektoral Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan di Aula Bappelitbangda, Selasa (24/02/26).

Kita punya visi besar: Tasikmalaya sebagai Kota Industri, Jasa dan Perdagangan yang Religius, Inovatif, Maju dan Berkelanjutan. Dan rancangan tema RKPD 2027 adalah peningkatan pertumbuhan ekonomi dan pelayanan publik untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. urusan pangan pertanian perikanan ini tepat berada di “jantung” tema itu. Ketahanan pangan yang kuat akan membuat ekonomi lebih tahan guncangan, inflasi lebih terkendali, dan kualitas hidup warga ikut terdorong.

Saya juga ingin menegaskan, rencana daerah harus satu napas dengan arah nasional dan provinsi. Hari ini di level nasional, isu besar kita jelas: food security dan perbaikan gizi termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan upaya swasembada pangan. Ini peluang besar, tapi hanya jadi peluang kalau kita siap dari hulunya: produksi, pasokan, distribusi, sampai stabilitas harga. Dengan kata lain, kita harus kuatkan value chain pangan kita dari sawah/kolam sampai meja makan.

saya menyampaikan beberapa gambaran yang membuat kita makin optimis. Berdasarkan bahan yang kita miliki, Indeks Ketahanan Pangan Kota Tasikmalaya tahun 2025 tercatat 78,10 dan meningkat dibanding tahun sebelumnya. Ini membuat kita makin optimis. Berdasarkan bahan yang kita miliki, Indeks Ketahanan Pangan Kota Tasikmalaya tahun 2025 tercatat 78,10 dan meningkat dibanding tahun sebelumnya. Ini menunjukkan pondasi kita cukup baik tinggal kita jaga, kita perkuat, dan kita rapikan titik lemahnya.

Di sisi kontribusi ekonomi, sektor pertanian juga masih punya peran yang nyata. Data yang terhimpun menunjukkan kontribusi sektor pertanian pada perekonomian Kota Tasikmalaya tahun 2024 sekitar 5,05%, meningkat dari tahun 2023. Dan untuk produksi padi, bahan kita mencatat tahun 2025 mencapai 75.859,51 ton, naik dari tahun 2024 sebesar 58.675,93 ton. Ini kabar baik tapi sekaligus tanggung jawab: bagaimana kenaikan produksi ini berujung pada naiknya kesejahteraan petani, bukan cuma naiknya angka.

Kita juga patut mengapresiasi upaya menjaga inflasi pangan bahkan ada catatan penghargaan terkait kinerja IHK di tingkat Provinsi Jawa Barat. Terima kasih untuk semua pihak yang terlibat: perangkat daerah, petani, pelaku usaha, BUMD, dan semua yang ikut menjaga pasokan dan harga tetap stabil. Ini kerja kolektif.

Dari sisi potensi, Tasikmalaya masih punya ruang yang besar. Data pada bahan menyebut lahan pertanian sekitar 11.297 ha atau sekitar 61% wilayah kota dengan sawah 4.831,02 ha dan lahan bukan sawah 6.466 ha. Selain itu, kelembagaan tani dan perikanan juga kuat: ada 64 gapoktan, 722 kelompok tani, 463 kelompok perikanan, dengan anggota mencapai 32.878 orang. Ini “modal sosial” yang luar biasa dan harus diperlakukan sebagai subjek pembangunan.

Tapi kita juga jujur: tantangan kita tidak ringan. Perubahan iklim makin terasa, cuaca makin sulit diprediksi. Lahan perkotaan juga punya keterbatasan. Di sisi fiskal, kita sama-sama paham ada penyesuaian transfer yang menuntut perencanaan makin efisien. Artinya, 2027 harus makin “tepat sasaran” program yang benar-benar berdampak, bukan sekadar ramai di dokumen.

Maka dari itu pada forum ini saya titip beberapa arah penguatan, sebagai benang merah diskusi kita.

1) Pertama, manfaatkan peluang MBG dengan cara yang menguntungkan petani dan pelaku usaha lokal. Bahan kita menyebut ada pengembangan dukungan MBG, termasuk penguatan komoditas tematik di kecamatan. Saya ingin ini dipastikan betul-betul operasional: siapa memasok apa, dari kelompok mana, standar kualitasnya bagaimana, logistiknya bagaimana, dan kontraknya sehat. Tujuannya sederhana: belanja pangan untuk program nasional harus berputar di ekonomi Tasikmalaya, bukan lewat saja.

2) Kedua, arahkan program pangan untuk menjawab dua PR besar kota: menekan kemiskinan dan memperbaiki gizi. Di bahan disebut pendekatan B2SA (beragam, bergizi, seimbang, dan aman). Ini harus menjadi gerakan nyata yang berdampak. Prioritaskan sasaran yang tepat: keluarga prasejahtera, wilayah rawan pangan, dan kelompok yang berisiko stunting. Karena kalau pangan kita kuat dan terjangkau, dampaknya langsung: kesehatan membaik, produktivitas naik, dan ekonomi warga ikut bergerak.

3) Ketiga, dorong inovasi yang realistis: climate-smart agriculture, teknologi tepat guna, dan penguatan penyuluh. Kita tidak perlu semuanya canggih, yang penting tepat guna dan bisa dipakai.

Teknologi tepat guna, dan penguatan penyuluh. Kita tidak perlu semuanya canggih, yang penting tepat guna dan bisa dipakai petani. Penyuluh harus jadi “jembatan pengetahuan” dari teknologi ke praktik di lapangan agar produktivitas naik, biaya turun, dan risiko gagal panen bisa ditekan.

4) Keempat, kita harus serius soal regenerasi. Petani muda dan pelaku perikanan muda harus punya ruang: pelatihan, akses alat, akses pasar, dan ekosistem usaha. Saya ingin anak-anak muda kita melihat sektor ini bukan sebagai pilihan terakhir, tapi sebagai peluang masa depan petani modern, farmerpreneur, dan pelaku usaha pangan yang melek digital.

5) Kelima, perkuat kemitraan. Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Kita perlu kolaborasi yang sehat dengan dunia usaha, investor, BUMN/BUMD, akademisi, dan komunitas. Prinsipnya jelas: tetap melindungi petani, tetap menjamin kualitas, dan tetap berpihak pada keberlanjutan.

saya berharap forum ini betul-betul jadi ruang musyawarah yang “berisi”: menyerap aspirasi, memetakan masalah dengan jernih, lalu merumuskan program yang terukur dan berdampak. Kalau kita sepakat pada prioritas, maka anggaran dan eksekusinya akan lebih fokus. Kalau kita kompak di awal,pelaksanaan di lapangan juga akan lebih rapi.

“Di titik ini, saya ingin mengingatkan satu kalimat yang sering kita pegang bersama: sendiri kita hanyalah setetes air, tapi bersama-sama kita adalah lautan. Di tengah tantangan yang ada, kuncinya memang satu: kolaborasi yang tulus, kerja yang rapi, dan keberpihakan yang jelas pada warga. Sareundeuk saigel, sabobot sapihanean, “pungkasnya

Reporter : H Amir

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles