BOLSEL — Sistem pemerintahan di indonesia memang terbilang cukup demokratis.Hal ini mulai terlihat dari gencarnya gelombang perlawanan rakyat terhadap sistem yang menindas.Nah Gerakan parlemen jalanan sejatinya lahir dari hasil advokasi yang matang, metode ini wajib dilakukan dalam rangka menggali informasi, keinginan masyarakat serta membaca potensi-potensi konflik saat gerakan dilakukan.
Jika advokasinya matang, maka sudah tentu perjuangan di lapangan akan didukung penuh oleh masyarakat.
Namun hal ini berbeda dengan kejadian di Desa Tobayagan, Kecamatan Pinolosian Tengah, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel).
Diduga hanya berbekal kajian seminggu, sekelompok pemuda yang tergabung dalam Organisasi Karang Taruna ini melakukan demo di Kantor Bupati Bolsel yang berada di Panango.
Tak ayal, demo itupun memicu persoalan ditengah masyarakat, mayoritas warga bahkan mengaku sangat menyesali gerakan pemuda ini karena tidak sama sekali terkoordinasi dan bahkan hanya memakai persepsi mereka sendiri.
“Kami justru tak tau ada demo, nanti saat melihat foto yang di unggah warga di media facebook, kami sangat menyayangkan karena Demo ini membawa nama masyarakat Tobayagan padahal kami sama sekali tidak mendukung,” ujar Bun salah satu warga Desa Tobayagan,Rabu (15/1/2025).
Demo yang membawa issue penolakan Aktifitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) memang sudah sering dilakukan oleh masyarakat, namun untuk kali ini demo yang disinyalir di danai oleh pihak luar tidak mendapatkan simpati lagi dari masyarakat.
“Kalau kelompok pemuda itu murni membawa aspirasi masyarakat maka keinginan kami bukan menolak PETI tapi pembuatan jalan akses menuju ke pertambangan lama biar kami masyarakat Tobayagan tidak lagi keluar daerah untuk mencari rejeki. Pun bilamana aksi mereka betul karna lingkungan maka kenapa mereka harus ketemu dengan pihak JRBM tanpa sepengetahuan masyarakat,ada apa,” ucap Imran yang di aminkan Abdul.
Sehingga itu kata dia, mereka menolak dengan tegas demo yang membawa bawa nama masyarakat Tobayagan, apalagi itu hanya memikirkan ego sendiri tanpa memikirkan dampak dari apa yang mereka lakukan.
“Tidak ada dukungan untuk demo tersebut, silahkan di cek berapa persen masyarakat Tobayagan selatan dan induk yang mendukng mereka,” tutupnya.
Diketahui,sebelum demo ini digelar oleh pemuda desa Tobayagan,terinformasi mereka melakukan pertemuam dengan petinggi JRBM di salah satu cafe yang ada di Kotamobagu.
Hal ini diakui juga oleh salah satu akun facebook atas nama KT Tobayagan selatan.
Alasannya cukup naratif dan retorik karena dalam komentarnya mengatakan bahwa pertemuan tersebut dalam rangka menindak lanjuti aksi blokade yang mereka lakukan disimpang bagong.///Anto